Sakha Arien Lesmana
Bukan pahlawan, bukan penyelamat— hanya seseorang yang tak bisa menutup mata, entah pada mereka yang berbulu, atau yang bersembunyi di balik luka
by 𝙰𝚗𝚓𝚒𝚗𝚐.
About

Nama Lengkap: Sakha Arien Lesmana
Nama Panggilan: Sakha, Arien
Tempat & Tanggal Lahir:17 Juli 1996
Jenis Kelamin: Laki-laki
Tinggi Badan: 182 cm
Berat Badan: 65 kg
Golongan Darah: O
Orientasi: Biseksual
Kewarganegaraan: Indonesia
Sakha Arien Lesmana, pria yang tumbuh di antara batas moral yang kabur, seorang dokter hewan yang tak pernah memandang bulu—baik mereka yang berbulu, maupun mereka yang datang dengan luka dan dosa. Lahir dari garis keturunan yang berliku, ia lebih memilih dunia hewan dibanding manusia, karena setidaknya, mereka tak tahu cara berbohong.Dibalik sikapnya yang sering sarkastik dan penuh gengsi, ia adalah seseorang yang tak bisa berpaling dari mereka yang butuh pertolongan. Mulutnya tajam, tangannya keras, tapi hatinya tak pernah benar-benar membatu.Bagi dunia luar, ia mungkin hanya seorang dokter hewan biasa. Tapi bagi mereka yang mengenalnya lebih dalam, ia adalah seseorang yang akan selalu berdiri di batas tipis antara yang benar dan yang salah—tak pernah jatuh, tapi juga tak pernah benar-benar berpihak.
The Story

| Ibu |
|---|
| Cantika Larasati |
Semarang, 17 Juli 1997.Malam yang seharusnya tenang justru dipenuhi ketegangan. Di sebuah kamar sempit dengan dinding yang mulai menguning, seorang wanita menggigit bibirnya, menahan jeritan di tenggorokan. Peluh membanjiri dahinya, jemarinya mencengkeram sprei lusuh di bawahnya, sementara rasa sakit merayapi tubuhnya, memaksanya bertahan.Namun bukan hanya sakit karena melahirkan, ada luka yang jauh lebih dalam—kenyataan bahwa anak yang ia perjuangkan ini lahir di dunia yang tak pernah benar-benar menerimanya.Seorang bidan tua berbisik lembut di telinganya, membimbingnya melewati rasa sakit yang hampir tak tertahankan. Dan ketika jeritan panjang memenuhi ruangan, diikuti oleh suara tangisan bayi yang pecah, dunia yang dingin itu akhirnya memberinya satu hal yang berharga.Seorang anak lelaki.Tangannya gemetar saat bayi itu diletakkan di dadanya. Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan keringat dan kelelahan. Tapi di antara semua rasa sakit yang mendera, ia tersenyum."Selamat datang di dunia, Nak…" suaranya lirih, namun penuh kehangatan.Ia menamainya Sakha Arien Lesmana.Sakha, pelindung. Nama yang dipilihnya dengan harapan, agar anaknya kelak bisa berdiri tegak, melindungi dirinya sendiri, tak seperti ibunya yang berkali-kali jatuh tanpa siapa pun yang menangkapnya. Arien, cahaya. Seberkas harapan yang ia percaya masih bisa menyinarinya, sekecil apa pun itu. Lesmana, kebebasan. Sesuatu yang selalu ia dambakan, tapi tak pernah benar-benar ia miliki.Namun ia tahu, dunia tak akan menyambutnya dengan tangan terbuka.Sejak malam itu, hidup anaknya akan selalu berjalan di antara batasan—antara benar dan salah, antara bertahan dan menyerah, antara mencintai dan kehilangan.Dan seperti namanya, Sakha akan tumbuh menjadi seseorang yang kuat. Tapi di balik kekuatannya, selalu ada beban yang harus ia pikul.

| Saudara |
|---|
| Sekar Adistya Wening |
Tahun demi tahun berlalu.Dunia tidak pernah memberi belas kasihan, dan Cantika Larasati belajar itu dengan cara yang paling menyakitkan.Sebagai seorang ibu tunggal, ia telah mencoba segalanya—dari menjahit, menjadi pelayan, hingga berdagang kecil-kecilan. Semua demi memastikan anaknya tidak tidur dalam kelaparan. Tapi dunia selalu menuntut lebih.Maka, ketika kesempatan datang—samar, berbahaya, dan mungkin mengikis harga diri yang tersisa—Cantika memilih menutup mata. Ia membuka kos-kosan kecil, sebuah tempat yang diam-diam menjadi jalur aman bagi bisnis yang berjalan dalam bayangan.Bukan pilihan yang benar. Tapi ini satu-satunya pilihan yang ia punya.Demi Sakha.Namun hidup selalu punya caranya sendiri untuk memberi kejutan.Di tempat itu, di rumah kecil yang ia bangun dengan caranya sendiri, ada seseorang yang mulai ia anggap seperti anak sendiri. Sekar Adistya Wening.Seorang gadis perantau yang datang dengan mimpi besar, namun dunia tak memberinya ruang untuk mewujudkannya. Seperti Cantika, ia harus bertahan dengan cara yang ia bisa. Maka ia bernyanyi di kafe-kafe kecil, menjadi DJ di klub malam, dan menari di antara batas tipis antara bertahan hidup dan kehilangan diri sendiri.Cantika melihat dirinya di dalam gadis itu. Ia melihat luka yang sama, ketakutan yang sama, tapi juga tekad yang sama.Maka tanpa sadar, ia mulai menjaganya.Sekar bukan sekadar penghuni kos lagi—ia adalah bagian dari keluarga.Bagi Sakha, Sekar adalah sosok yang ada bahkan sebelum ia sempat merasa kesepian. Saat Sakha baru pindah ke Jakarta, ketika ia masih remaja berusia lima belas tahun yang belum terbiasa dengan hiruk pikuk kota besar, Sekar sudah ada di sana. Seorang kakak yang—meskipun sering menyebalkan—tak pernah benar-benar meninggalkannya.Mereka sering bertengkar, sering saling ejek, tapi dalam diam, mereka tahu bahwa mereka saling menjaga.Kini, ketiganya berdiri di dalam rumah yang sama. Bukan keluarga biasa, bukan pula keluarga sempurna, tapi mereka tetap keluarga.Sakha tumbuh dalam lingkungan yang keras, tapi ia tetap membawa kelembutan dalam caranya sendiri.Ia memilih untuk merawat yang tak bersuara. Hewan-hewan yang ditelantarkan, yang tersesat, yang dikhianati oleh manusia yang seharusnya menjaga mereka.Dari kecil, ia lebih mudah percaya pada hewan dibanding manusia. Baginya, mereka tidak tahu cara berbohong.Kini, ia berdiri sebagai seorang dokter hewan—seorang pelindung. Bukan pahlawan, bukan penyelamat, tapi seseorang yang tak bisa menutup mata.Di sela pekerjaannya, ia juga belajar hal lain. Bagaimana menangani luka manusia. Bagaimana menghentikan pendarahan. Bagaimana meredakan nyeri.Bukan karena ia ingin. Tapi karena ia harus.Maka, di balik dinding kliniknya yang sederhana, di balik meja pemeriksaan tempat ia merawat anjing dan kucing yang sakit, ada sisi lain dari dirinya yang hanya diketahui oleh mereka yang cukup dekat.Ia tidak pernah memandang bulu.Baik mereka yang berbulu, maupun mereka yang datang dengan luka di tubuh dan keputusasaan di mata.

| Rusun Klepon |
|---|
| Jl. Mutiara Raya Indah, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur. |
Siapa sangka, kos-kosan kecil itu akhirnya tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.Kini berdiri sebuah rusun sederhana—bukan megah, bukan mewah, tapi cukup untuk disebut rumah.Di tempat ini, mereka yang sering terlupakan oleh dunia berkumpul. Kurir-kurir yang bekerja dalam bayangan, wanita-wanita yang menjual malam demi menyambung hidup, orang-orang yang selalu berjalan di batas hukum dan dosa.Bagi dunia, mereka adalah sampah.Tapi bagi Cantika, mereka adalah manusia.Bagi Sakha, mereka tetap layak untuk ditolong.Bagi Sekar, mereka tetap keluarga.Mereka bukan orang suci, tapi siapa di dunia ini yang benar-benar suci?Dinding rusun ini tak sempurna, seringkali berdebu, suara bising para penghuninya bercampur dengan hiruk pikuk jalanan di luar. Terkadang ada keributan, ada adu mulut, ada tangan yang melayang.Namun, di akhir hari, mereka tetap saling menjaga.Mereka tetap manusia.Mereka tetap berharga.Mereka tetap memiliki tempat untuk pulang.
Writer's Note
Dengan ini, aku mendeklarasikan bahwa Sakha Arien Lesmana hanyalah sebuah fiksi—sebuah kisah yang lahir dari imajinasi dan pemikiranku sebagai penulis. Setiap tokoh yang bernafas di dalamnya, setiap jejak yang mereka tinggalkan, adalah rangkaian kata yang kugoreskan tanpa ada sangkut paut dengan face claim yang digunakan.Namun, fiksi sering kali berkelindan dengan realitas. Jika kau menemukan bayangan yang terasa familiar, jika ada serupa yang tak kusadari, maka katakanlah dengan baik, seperti bagaimana cerita ini juga ingin diterima dengan baik.Dan jika kau ingin berjalan di dunia yang sama dengan Sakha, ingin membangun kisah yang bersinggungan dengan jalannya, maka mari duduk bersama, berdiskusi, dan merajut narasi yang bisa kita bagi.Karena meski ia hanya fiksi, ia tetap sebuah kisah yang memiliki tempat untuk tumbuh.- 𝙰𝚗𝚓𝚒𝚗𝚐.